BERITA UTAMA


Pemerintah Diminta Serius Atasi Stunting di Bojonegoro


Literasi.co.id Data di Dinas Kesekatan (Dinkes) Bojonegoro,pada tahun 2018 balita stunting di Kabupaten Bojonegoro sebanyak 7.050,Jumlah ini meningkat, jika dibandingkan tahun sebelumnya (2017) dengan jumlah stunting sekitar 5.755.

Tingginya angka stunting mendapat sorotan sejumlah pihah,salah satunya Lilis Aprilliati dari pegiat SPEaK (Suara Perempuan Penggerak Komunitas),ia  berharap agar pemerintah kabupaten menaruh perhatian serius terhadap permasalahan tersebut dengan melakukan berbagai strategi dan intervensi program yang tepat sasaran.

“Pemerintah Bojonegoro harus memiliki strategi dan intervensi program penanganan stunting yang tepat sasaran. Karena faktor penyebab stunting ini sangat kompleks dan multidimensi, “ ungkapnya.

Menurut perempuan yang juga Ketua Korp PMII Putri (KOPRI) Bojonegoro ini,ada sejumlah faktor yang menyebabkan angka stunting di Bojonegoro tinggi. Diantaranya, disebabkan pengaruh kemiskinan, permasalahan sanitasi dan sumber air minum yang belum layak, sehingga menimbulkan beberapa penyakit, seperti diare. Selain itu juga adanya faktor rendahnya rata-rata lama pemberian ASI yang rendah, jumlah anggota keluarga yang sangat tinggi, serta faktor literasi kesehatan dan kesadaran akan pola hidup sehat yang masih minim.

“Diperlukan strategi multidimensi dengan melibatkan multistakeholder untuk bersama-sama melakukan edukasi dan mendorong kesadaran akan dampak buruk dari stunting,” imbuhnya.

Senada, pegiat SPEaK lainnya, Anis Umi Khoirotun Nisa, menambahkan bahwasanya permasalahan stunting akan berdampak pada penurunan produktifitas dan kerentanan anak terhadap penyakit.

"Selain berdampak secara kognitif atau kecerdasan anak, stunting juga menyebabkan si anak rentan terserang penyakit, sehingga mengurangi produktifitasnya," ujar Anis.

Ia pun berharap Pemerintah Bojonegoro merespon serius permasalahan stunting tersebut dan mengambil langkah strategis. Seperti memaksimalkan peran kader stunting di desa,meningkat layanan kesehatan serta membangun sinergi dan kolaborasi tokoh masyarakat, tokoh agama, kelompok perempuan

Melakukan sosialisasi dan edukasi secara masif dan tepat sasaran, serta meningkatkan program peningkatan gizi, terutama bagi anak dari keluarga kurang mampu dan lain sebaginya.

Sementara itu Plt Kepala Dinkes Bojonegoro, Hernowo mengatakan potensi bayi lahir stunting bukan hanya terjadi pada keluarga miskin. Namun, keluarga mampu secara ekonomi pun bisa terjadi jika tidak menerapkan pola asuh orang tua untuk menjaga perilaku hidup sehat.

“Hampir merata di setiap kecamatan ada stunting, belum tentu daerah miskin paling banyak terjadi stunting. Karena penyebabnya pada pola asuh. Seperti memberi anak makanan yang kurang bergizi dan pola hidup sehat,” ujarnya

Sehingga, kata dia, program pengurangan resiko bayi lahir stunting ini menjadi skala prioritas. Dinkes mengaku membuat program unggulan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Yakni, pendampingan ekstra mulai dari saat kehamilan, kelahiran dan setelah lahir terutama bayi di bawah dua tahun.

“Program unggulan Dinkes sekarang mengajak orang tua untuk memberi pendidikan terkait rencana kehamilan hingga perawatan bayi,” jelasnya.(ded)

Posting Komentar

0 Komentar