BERITA UTAMA


Daya Rusak Industri Rokok


Keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan cukai rokok di awal tahun 2019 seakan menjadi pengingat bahwa tantangan upaya pengendalian tembakau di depan mata masih begitu berat.

Sepertinya pemerintah dan masyarakat luas perlu diingatkan sekali lagi betapa sebenarnya industri rokok membawa lebih banyak malapetaka ketimbang keuntungan untuk Indonesia.

Dalam lima tahun terakhir, tercatat bahwa cukai rokok menyumbang Rp 140-150 triliun per tahun ke kas negara. Di sisi lain, produk rokok justru menyebabkan negara mengalami kerugian makro ekonomi hingga empat kali lipatnya.

Kementerian Kesehatan mengungkap bahwa kerugian makro akibat konsumsi rokok 2015 mencapai Rp 596,61 triliun – angka ini meliputi total kehilangan tahun produktif Rp 374,06 triliun, belanja rokok Rp 208,83 triliun, belanja kesehatan rawat inap dan jalan 13,72 triliun.

Semakin miris lagi sebagaimana diungkapkan oleh Bappenas bahwa perokok aktif lebih banyak berasal dari penduduk termiskin, yakni sebesar 27,3%. Riset terbaru yang dirilis oleh Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI) tahun ini membuktikan bahwa rumah tangga yang menerima bantuan sosial cenderung memiliki konsumsi batang rokok lebih tinggi. Bantuan sosial yang dimaksud antara lain seperti Beras Sejahtera (Rastra) dan Program Keluarga Harapan (PKH).

Para penerima bantuan sosial tersebut memiliki konsumsi rokok 3,5-4,5 batang/kapita/minggu lebih tinggi dibandungkan bukan penerima.Periset National Institute of Health Research and Development (NIHRD) Dr. Soewarta Kosen mengatakan bahwa konsumsi rokok menjadi salah satu pengeluaran terbesar keluarga miskin. Sebanyak 2,6 kali lebih besar dari pengeluaran untuk telur dan susu, 7 kali lebih besar dari pengeluaran untuk daging dan 3,8 kali lebih besar dari pengeluaran untuk kesehatan.

Belum lagi jika bicara masalah prevalensi merokok di kalangan anak. Riset kesehatan dasar yang dilakukan Kementerian Kesehatan mencatat terdapat kenaikan prevalensi merokok pada anak dari 7,2% di tahun 2013 menjadi 9,1% pada 2018.

Maka selain keluarga miskin, anak-anak dan remaja juga merupakan kelompok yang layak mendapat perhatian lebih dalam berbagai upaya pengendalian tembakau.Industri rokok, dengan segala sumber daya yang mereka miliki, melakukan ‘investasi’ untuk menggaet perokok-perokok muda melalui berbagai program yang menarik bagi anak dan remaja. Sebut saja melalui sponsor acara musik, film dan berbagai budaya populer lainnya.

Yang terbaru, perusahaan-perusahaan besar rokok berusaha memperkenalkan tren rokok elektrik. Sebut saja Iqos dari induk perusahaan HM Sampoerna, Philip Morris International. Ada pula produk lain dengan merek dagang Juul.

Jenis rokok ini diklaim lebih nikmat dan memiliki risiko kesehatan lebih rendah dibanding rokok biasa. Melalui proses pemanasan, bukan pembakaran, rokok elektrik diklaim tidak menghasilkan asap.Keduanya, meski belum secara resmi dipasarkan di Indonesia, telah beredar cukup luas di pasar-pasar daring dan diperbincangkan cukup banyak oleh anak-anak muda di media sosial.

Fakta-fakta di atas mengungkapkan bagaimana industri rokok memiliki kekuatan yang sangat besar untuk menggerogoti negara bahkan tanpa seorang pun menyadari. Mereka begitu lihai mencitrakan diri sebagai pihak yang berkontribusi terhadap pembangunan negara, meski sebenarnya lebih banyak kerugian yang ditanggung negara akibat adiksi jutaan masyarakat terhadap rokok.(DMA)

Posting Komentar

0 Komentar