BERITA UTAMA


Sepakbola dan Fanatisme


Literasi.co.id - “Some people believe football is a matter of life and death, I am very disappointed with that attitude. I assure you, its much, much more important than that”  begitulah ucapan seorang Bill Shankly seorang pria yang melegenda di klub sepakbola ternama Liverpool fc.

Ucapanya kala itu sedikit banyak merupakan benar bila dilihat dari perkembangannya kini, sepakbola merupakan sebuah olahraga yang massif dan bagi beberapa orang dipercaya mampu menaikkan derajat ekonomi dari sepakbola. Sepakbola pun lebih dari sekedar 22 manusia berebut sebuah bola bundar di lapangan rumput hijau, akan tetapi sepakbola merupakan maghnet yang mampu membuat semua orang yang melihatnya takjub hingga melonggo dengan segala bentuk drama yang disajikan bagai sinema layar kaca.

Bagaimana sebuah bola yang dimasukkan kedalam gawang setinggi 2,4 meter dan selebar 7,3 meter mampu membuat seluruh masyarakat dalam suatu Negara berpesta mereka akan berteriak dengan bahagia dengan luapan euphoria yang bahkan bisa membuat mereka lupa akan segala permasalahan hidup dan rasa lapar yang mereka derita, ya... mungkin sepakbola memang benar much, much more important than that.

Sepakbola telah menjadi lebih dari sekedar “olahraga”  sebagaimana fanatisme yang tumbuh didalam masyarakat yang menikmatinya. Kini segala obrolan baik di kantor,sekolah ataupun di warung kopi serasa tak lengkap bila tidak berbicara tentang sepakbola. Di era modern kini sepakbola telah menjadi komoditas industri  global dengan segala kemajuan di bidang teknologi dan informasi fanatisme. Sepakbola kini tidak lagi berbicara hanya tentang sepakbola lingkup daerah ataupun nasional, lebih dari itu berkat adanya tayangan televisi fanatisme sepakbola telah menembus batas jarak,

Sebagaimana masyarakat indonesia akrab menyebutnya dengan istilah “supporter fans club” untuk menyebut sekelompok orang yang memiliki rasa fanatis terhadap klub sepakbola yang mayoritas berasal dari eropa. Kebanyakan dari mereka tidak pernah menonton kesebelasan pujaan nya secara langsung mereka juga tidak berasal dari kota tempat klub pujaanya itu berada, tapi mereka hanya bisa menyasikan klub kebangganya lewat siaran televisi dengan perbedaan waktu antara eropa dengan asia tenggara yang menyebabkan pertandingan sepakbola eropa disiarkan pada dinihari di Indonesia mereka akan tetap menyaksikanya dengan rela mengorbankan jam tidurnya.

Lalu bagaimana dengan sepakbola Indonesia sendiri? Sebuah liga yang tidak jelas, keributan antar pemain, penyuapan wasit, pengaturan skor, federasi yang korup, keterlambatan gaji dan seribu satu masalah didalam per sepakbola an Indonesia, namun seakan tidak ada lelahnya dengan permasalahan yang terjadi dengan loyal para fans dan kelompok supporter klub Indonesia tetap akan berbondong-bondong datang ke stadion tiap kali tim kebanggan nya berlaga,mereka akan tetap hadir  dengan segala atribut yang seragam dengan warna ciri khas tim nya dan juga dengan syal kebangganya.

Mengapa mereka masih tetap mau membayar tiket dan menonton di stadion dan dengan tanpa kenal lelah dan tetap bernyanyi mendukung tim nya meskipun sejatinya mereka pasti tau betapa buruknya sepakbola di negeri ini jika dibandingkan dengan sepakbola yang mereka lihat di layar kaca?

Disini saya teringat sebuah perkataan dari bapak yang mengatakan sepakbola merupakan sebuah hiburan yang mudah dapat dilakukan dimanapun dan kapan pun dengan harga murah bahkan terkadang tanpa biaya sedikit pun, sepakbola tak mengenal kelas tak mengenal si kaya dan si miskin. Sepakbola telah dicintai oleh segala lapisan masyarakat Indonesia.

Mungkin dari sanalah fanatisme pun muncul tanpa kita sadari, bisa karena kita merasa sebagai putra daerah dan ingin mendukung kesebelasan yang berasal dari tanah kelahiran kita, contohnya seperti di malang hampir seluruh masyarakatnya dari yang tua sampai muda pasti jika ditanya kesebelasan yang didukung nya mereka akan menjawab nama Arema malang sama jika anda menanyakan hal yang sama di kota lain dengan Persib di Bandung, Persebaya di Surabaya dan Persibo di Bojonegoro kota kelahiran saya.

Atau mungkin rasa fanatis itu muncul setelah melihan kelihaian dan keindahan dalam mengolah bola dari suatu tim meskipun kita bukan berasal dari daerah tim tersebut seperti yang terjadi pada saya pribadi pada medio 2006-2007 dimana saya dibuat terkesima oleh permainan sepakbola yang ditunjukan oleh kesebelasan Persipura Jayapura dan Boaz Sallossa muda yang dengan lincah kakinya mampu melewati pemain bertahan lawan telah membuat saya menjadi fanatis pada persipura pada kala itu, saya selalu ingin mendukung dan menyaksikan mereka bertanding meskipun hanya melalui layar kaca televisi.

Namun seiring dengan tumbuh suburnya fanatisme didalam sepakbola nasional kita seiringan denganya pun tumbuh sebuah sentiment antar para supporter, yang mungkin saja berawal dari rivalitas klub nya diatas lapangan atau mungkin dari rasa kedaerahan dan menganggap bahwa dirinya lebih baik dari supporter lain dari sini maka tumbuhlah kebencian. Kebencian yang sesungguhnya sangat merugikan karena selain dari loyalitas dan fanatisme supporternya apalagi yang dapat dibanggakan dari sepakbola negeri ini?

Kebencian yang seakan-akan memang sengaja dilestarikan sebagaimana kita sering dengar baik kita menonton di stadion maupun di televisi adanya nyanyian dari suatu kelompok supporter yang menyerang kelompok supporter lainya,dan di social media pun seperti tiada habisnya mereka saling menyerang satu sama lain meskipun telah diupayakan perdamaian namun kebencian ini tetaplah ada seperti mengakar dan menjadi sebuah syarat

Dibalik segala kericuhan dan kebencian ada banyak hal yang juga mesti dipuji dari fanatisnya supporter Indonesia salah satu contohnya seperti yang dilakukan oleh kelompok supporter pss sleman yang bernama Brigata Curva Sudatau mungkin lebih sering dikenal dengan singkatanya yaitu BCS, mereka telah menarik perhatian media internasional lewat media social youtube. Dengan aksi aksi choreography  nya yang penuh dengan kreatifitas dan menyalakan red flaredi tiap akhir pertandingan. Meskipun kebanyakan dari nyanyian,aksi bahkan nama mereka terinsipirasi dari budaya ultras (budaya supporter italia).

Namun BCS tetap BCS yang memiliki ciri khas dan pendirian mereka sendiri, seperti yang mereka tunjukkan pada laga pembukaan piala presiden 2017 lalu, BCS membentangkan sebuah choreographyyang membentuk elang (elang jawa adalah julukan dari tim pss sleman) dan apa yang dilakukan oleh kelompok BCS ini seperti menjadi pemicu bagi kelompok supporter tim lainya untuk melakukan kreatifitas dalam aksi mereka tiap kali mendukung kesebelasan kebangganya,hal ini merupakan sisi positif dari fanatisme Indonesia.

Kecintaan masyarakat kita akan olahraga sepakbola telah mengakar dan mungkin sangat sulit untuk dihilangkan begitu saja budaya sepak bola dari bangsa ini. Bangsa yang dikenal besar dengan perbedaan nya, dengan pluralism nya lihatlah pada saat timnas Indonesia berlaga segala macam suku,ras dan agama bersatu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, bayangkan betapa hebohnya negeri ini jika suatu hari nanti timnas Indonesia mampu berlaga di pentas piala dunia.

Sepak bola adalah alat pemersatu kata salah satu tokoh kiri Tan malaka. Dengan ini sudah seharusnya kita menyudahi segala kebencian dan permusuhan antar supporter dan mengingatkan mereka yang berseteru bahwa kecintaan mereka sejatinya sama yaitu sepakbola, olahraga pemersatu dan olahraga universal dan mereka pun masih tetap berada pada naungan satu bendera dan Negara yang sama yaitu Indonesia. Jangan dibiarkan fanatisme buta dibiarkan tumbuh subur dan berlanjut ke generasi selanjutnya.(im)

Posting Komentar

0 Komentar