BERITA UTAMA


AJI Bojonegoro : Stop Kekerasan Pers,Perusahaan Media Wajib Gaji Layak Jurnalis

Literasi.co.id - Selamat memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia. Pada hakikatnya memperingati, mengingat kembali, melakukan refleksi. Sudahkah pers bebas saat ini? Kebebasan pers menjadi refleksi bersama dan melahirkan kesepakatan yang kemudian menjadikan pers lebih sehat.

Era digitalisasi, perkembangan teknologi yang pesat juga merangsang pertumbuhan pers yang lebih banyak. Berdasarkan data Dewan Pers, media online di Indonesia sejumlah 43.000 media yang menjadi kelompok media dengan jumlah terbesar setelah media cetak yang berjumlah 1.500. Stasiun televisi maupun radio yang rutin memproduksi berita, juga menunjukkan geliat dengan terpaan gelombang digitalisasi. Audiens kini bisa menikmati berita baik televisi, radio maupun media cetak dalam platform digital.

Namun, banyaknya pertumbuhan media belakangan tidak diimbangi dengan upah yang layak bagi jurnalis. Masih banyak jurnalis yang mendapat upah dibawah Upah Minimum Kabupaten (UMK). Sehingga memunculkan pekerja pers yang mencari pendapatan dengan cara yang tidak sehat.

Sekretaris Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro, Khorij Zaenal Asrori dalam aksi peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia, mengatakan, banyaknya media yang berkembang saat ini seharusnya diimbangi dengan upah yang layak bagi jurnalis. "Sehingga potensi wartawan yang mencari amplop (wartawan bodrek) atau praktek suap berkurang," ujarnya, Rabu (3/5/2017).

Disisi lain, lanjut dia, sebagai jurnalis juga harus meningkatkan kapasitasnya. Seperti yang disuarakan dalam aksi yang dilakukan AJI Bojonegoro, Jurnalis (Harus Bisa) Menulis. "Peningkatan kapasitas jurnalis ini harus terus dilakukan, karena profesi jurnalis tidak stagnan," jelasnya.

Kasus kekerasan yang dialami jurnalis belakangan juga masih banyak. AJI Indonesia merilis sepanjang tahun 2016 jumlah kasus kekerasan yang dialami jurnalis sebanyak 76 kasus. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dari jumlah tahun sebelumya. Selain itu, ada delapan kasus kekerasan terhadap jurnalis hingga meninggal yang belum ditangani serius oleh negara.

Seperti kasus Fuad Muhamad Syafrudin alias Udin, wartawan Bernas Yogyakarta. Kasus pembunuhan Udin yang diduga karena beritanya itu terjadi tahun 1996. Hingga saat ini kasusnya belum selesai. "Aparatur penegak hukum harus turut melindungi dan bersinergi dalam membantu proses jurnalistik," tambah Anggota AJI Bojonegoro, Sujatmiko.

Seperti diketahui, aksi sejumlah jurnalis yang tergabung dalam AJI Bojonegoro dilakukan dengan turun jalan dan melakukan orasi di depan Kantor Pemkab Bojonegoro. Aksi tersebut dengan membawa poster menyuarakan perjuangan pers saat ini.

Salah satunya berisi tentang "Bangkitlah Media Berserikat Sekarang", "Berlakukan Upah Sektoral Media", "Penuhi Hak Jurnalis Perempuan, "Upah Layak Untuk Kontributor", "Jurnalis itu: Berkompetensi, Menolak Suap, Kritis, Independen", "Lawan PErusahaan Media Yang Gaji Rendah Jurnalis", "Penuhi Upah Layak Jurnalis", "Kebebasan Pers Itu Informasi Publik"(tbs)

Posting Komentar

0 Komentar