BERITA UTAMA


Persibo,Lumpia dan Buku


‘’Pak tolong pintunya dibuka dulu. biar penjual bisa masuk,’’ teriak seorang penjual di balik pintu Stadion Letjen H. Sudirman Bojonegoro siang itu. Mereka berucap dengan wajah yang cukup memelas. Saya tak tega melihatnya.

Para pedagang tengah mengantre sejak pagi untuk bisa memasuki stadion lebih awal. Mereka menata barang dagangannya di depan semua pintu stadion. Merekalah yang mengawali datang, sebelum para supporter tiba.

Sesekali mereka menggedor pintu untuk mendapatkan tanggapan dari panitia yang ada di dalam stadion agar pintu segera dibuka. Namun, harapan itu kandas, pintu dibuka sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

Para pedagang datang pagi bukan tanpa alasan. Mereka datang karena dari rumah sudah membawa harapan bila akan mendapatkan untung yang banyak.

Mengapa mereka seyakin itu? Kerinduan.

Rindu para supoter Persibo-lah yang membuat mereka yakin stadion akan penuh sesak oleh penonton. Dan, prediksi mereka tepat.

Penoton berjubel di stadion untuk menyaksikan kesebelasannya berlaga kembali. Penonton rindu rosak sorai bersama-sama. Rindu menabuh genderang dan mengibarkan bendera klub kesayangnnya. Rasa rindu itu tumpa ruah di semua lini stadion.

Kerinduan itulah yang turut membawa berkah bagi para penjual lumpia. Lumpia adalah makanan ringan yang terdiri dari lembaran tipis tepung gandum. Lembaran itu dijadikan sebagai pembungkus isian yang umumnya adalah rebung, telur, ataupun sayuran segar.

Mereka yang menjual lumpia merasakan kebahagian. Kerinduan mereka akan untung besar pun terbayar. Sebab, Persibo telah hadir kembali.

‘’Selain berjualan. Saya juga sudah kangen dengan Persibo,’’ kata Mardi, salah satu penjual lumpia di stadion.

Lumpia dan Persibo saling berkaitan. Penjual lumpia akan mudah dijumpai saat Persibo berlaga. Mereka ada di titik penting saat penonton membutuhkan asupan pengganjal perut.

Tak hanya penonton, aparat keamanan yang berjaga pun turut menikmatinya. Untuk itu, lumpia dan Persibo, ibarat duet staiker lawas Juventus Del-Pippo (Del Piero-Filippo Inzaghi).

Para penjual lumpia senyumnya merekah saat Persibo kembali berlaga. Mereka tertawa lepas saat dagangan mereka habis. Untung mereka bisa berlipat dari hari biasanya.

Uang mereka bawa pulang untuk keluarganya di rumah. Mereka makan enak malam itu. Mereka punya tambahan tabungan untuk bersiap lebaran yang masih beberapa bulan.

Kembalinya Persibo telah menolong mereka. Begitu juga Persibo, adanya penjual lumpia telah menolongnya. Apa jadinya bila di dalam stadion tak ada penjual lumpia.

Sebab, supoter tak mungkin membawa makanan dari rumah. Siapa yang rugi saat supoter perutnya terasa kosong lantas berbuat yang tidak perlu? Sedangkan, dengan Rp 2000 saja mereka sudah bisa menganjal perut lantas meneriakkan dukungan.

Persibo Bojonegoro memang sudah lama tak merumput di stadion. Sekali merumput 13 ribu penonton pun tumplek blek.

Kesebelasan ini dibungkam selama empat tahun. Baru tahun ini, tim berjuluk Laskar Angling Dharma diakui kembali oleh PSSI. Klub ini akan tampil di kasta paling bawah yakni Liga 3. Meski agak kecewa tapi akhirnya dijalani.

Persibo punya sejarah panjang dalam persepakbolaan nasional. Kesebelasan yang lahir 12 Maret 1949 ini dijuluki The Giant Killer.

Bukan tanpa sebab julukan itu disematkan. Semua bermula saat Persibo menjuarai Divisi I dan promosi ke Divisi Utama pada musim 2007/2008. Di musim pertamanya berlaga, Persibo turut masuk dalam turnamen Copa Indonesia.

Nah, dalam kompetisi itulah kesebelasan kebanggan masyarakat Bojonegoro berhasil menumbangkan tiga tim dari kasta tertinggi Superliga.

Mereka adalah Arema Indonesia, Persik Kediri, dan Pelita Jaya untuk melaju ke babak delapan besar turnamen bergengsi yang mempertemukan tim dari tiga divisi berbeda.

Melejit dengan prestasinya, Persibo naik kasta dari Divisi Utama ke Liga Super Indonesia musim 2010/2011. Tapi, di akhir 2010, Persibo justru mengambil langkah yang cukup berani untuk menyeberang ke Liga Primer Indonesia yang saat itu merupakan breakaway league sehingga mendapatkan sanksi yang membuat Persibo dilarang berpartisipasi dalam setiap kegiatan PSSI dan harus terlempar ke Divisi Satu Liga Indonesia pada musim berikutnya.

Namun status keanggotaan Persibo diputihkan bersama Persema oleh Komite Eksekutif (Exco) PSSI dalam rapat ketiga Exco pada Agustus 2011. Angin segar yang didapatkan itu membuat mereka bisa bersaing bersama klub Liga Super Indonesia (ISL) dan Divisi Utama untuk menjadi klub profesional.

Di musim 2011/2012 Persibo berada di Indonesian Premier League bersama 12 tim lain yang merupakan top flight division di Indonesia. Bahkan, menjadi juara satu Piala Indonesia pada 2012 setelah mengalahkan Semen Padang.

Prestasi yang diraih pada 2012 membawa Persibo untuk tampil di laga internasional. Persibo mewakili Indonesia untuk bertarung di AFC 2013. Namun, karena kondisi finansial yang tak mumpuni akhirnya tim berkostum orange harus takluk dari tim-tim dalam satu grupnya. Hingga berujung pemberian sanksi dari PSSI dan AFC.

Di tahun itu pula status keanggotaan Persibo di PSSI tak ada kejelasan. Apalagi, organisasi sepakbola nusantara itu sedang diderai konflik.

Mulai 2013 hingga 2017 tak ada kejelasan status hingga akhirnya pada Januari 2017, keanggotan Persibo diakui PSSI bersama kawan lamanya Persema Malang.

Minggu, 23 April lalu menjadi titik kebangkitan Persibo, setelah empat tahun mengalami kehampaan. Mereka menjamu Persema di Stadion Letjen H Soedirman untuk pertandingan persahabatan. Semua merasa sang naga telah lahir kembali.

Kehadiran Persibo menjadi kado terindah para Boromania dan Curva Nord 1949. Mereka rela mengantre tiket cukup lama.

Mereka yang ada di Kecamatan Kanor, wilayah timur Bojonegoro, hadir dengan membawa bendera besar. Pasukan Boromania dari Padangan, Bojonegoro bagian barat, tak mau kalah. Bahkan, warga Bojonegoro perantauan nekad pulang untuk menyaksikan kesebelasan kesayangannya berlaga.

‘’Saya kerja di Madiun. Ini pulang karena Persibo main,’’ kata Rudi Rusyono pada saya usai pertandingan selesai.

Tapi, bagi saya Persibo telah memberikan kado pada hari yang spesial bagi para pencinta buku. Saat tim besutan I Putu Gede bertanding, bersamaan dengan hari buku se-dunia.

Adakah hubungan sepak bola dengan buku? Jawabannya adalah candu.

Sepakbola dan buku sama-sama menimbulkan kecanduan bagi penggemarnya. Sekelas penonon sekalipun, bila sudah candu, mereka rela merangkak untuk datang ke stadion. Begitu pula penggemar buku, bila keinginannya tingkat brutal, maka buku mahal pun dibeli.

Pun demikian, banyak mereka yang tengah “menggiring” bola dengan buku. Zen Rs dengan Simulakra Sepakbola, Tamasya Bola digawangi Darmanto Simaepa, Sindhunata menggiring bola melalui Air Mata Bola, dan Kang Fim dengan bukunya Mencintai Sepak Bola Meski Kusut. Ada juga Sirajudin Hasbi dengan Fandom ID-nya.

penulis : Amrulloh Ali Moebin (jurnalis dan penggerak literasi)

Posting Komentar

0 Komentar