BERITA UTAMA


Filsafat yang Renyah dan Gurih


Ane,
Tentang filsafat yang pernah kamu tanyakan ke aku. Ada buku yang memikat saat kita belajar filsafat. Judulnya Dunia Sophie yang ditulis oleh Jostein Gaarder. Buku itu sangat tebal dan sudah dicetak berulangkali. Dulu harganya hanya Rp 45 ribu, saat itu sudah sangat mahal. Tapi beberapa waktu lalu, saat di toko buku, harganya sudah dua kali lipat.

Kali pertama membaca buku itu, aku baru lulus SMA. Di kota budaya Jogja, aku melahap buku itu.  Ceritanya sederhana, seorang siswa bernama Sophie Amundsend. Dia menerima surat. Isinya surat itu dua kalimat sederhana, hanya bertuliskan, siapa kamu?. Pertanyaan yang sederhana, tapi cukup panjang menjelaskannya. Ane, belajar filsafat, adalah belajar soal pondasi ilmu pengetahuan. Pelajaran pertama dari filsafat adalah memahami diri kita sebagai manusia. Dari memahami diri kita bisa memahami semesta ini. Memahami tujuan hidup. Dan memahami Tuhan sebagai pencipta semesta ini.

Dulu, saat masih pelajar SMA. Seorang kawan, anak seorang kiai bercerita. Dia dilarang belajar filsafat oleh ayahnya. Alasannya, filsafat menjauhkan diri dari Tuhan. Karena filsafat mengajarkan kita banyak pertanyaan. Salahsatunya pertanyaan tentang Tuhan dan semesta ini.  Padahal Tuhan tak boleh dipertanyakan. Kita tinggal menerima begitu saja tentang Tuhan. Padahal Ane, Tuhan memberikan kita otak untuk berpikir. Tapi kok aneh ya kita tidak boleh memikirkan tentang Tuhan? Ah Ane, pusing ya. Aku juga pusing kalau banyak pertanyaan. 

Ane, sebenarnya aku hanya ingin berkata, membacalah tentang apa saja. Jangan membatasi diri saat kamu ingin memberikan gizi otakmu. Membaca filsafat itu penting, agar landasan dan kerangka berpikir kita ada konsep yang jelas.

Jangan seperti anggota dewan yang terhormat itu, asal ngomong di media tanpa ada landasannya. Seolah dia yang paling benar dan membela rakyat. Aku termasuk bagian orang-orang yang menyesal ikut memberikan suara buat wakil rakyat. Tingkah mereka kadang lucu ya. Seperti genre sastra popular, ada yang bertingkah chicklit, teenlit, ah kadang ya childish. Meminta dengan cara merengek, seperti anak kecil. Kalau tak dikasih baru nangis.  Tapi ya sudahlah, biarkan saja tingkah para wakil rakyat yang lucu-lucu itu. Pemilu mendatang, mereka yang lucu-lucu itu tak usah dipilih lagi.

Ane, ngomong-ngomong kamu udah punya hak pilih’kan? Berpikirlah sebelum bertindak. Nah, kalimat itu sebenarnya ada landasan kuat. Kita diminta menggunakan akal lebih dulu sebelum bertindak. Atau kalau dalam bahasa pemilu dan pilkada, ya berpikirlah dulu sebelum mencoblos pilihanmu. Ini penting, agar kekecewaan tak terus menumpuk.

Namun ada tips yang efektif untuk mengurangi rasa kecewa terhadap wakil rakyat. Tulislah rasa kecewamu itu dalam tulisan yang panjang. Baca lingkungan sekitarmu. Baca buku yang banyak. Beri landasan yang kuat. Beri kerangka berpikir yang jelas. Sehingga tulisanmu mencerahkan dan inspiratif bagi pembaca.

Ane,
Buku Dunia Sophie merupakan buku filsafat yang renyah. Enak dibaca. Mengalir. Filsafat yang awalnya berat dan ditakuti tak bakal terjadi dalam Dunia Sophie. Filsafat dalam Dunia Sophie seperti menguyah makanan ringan. Enak, gurih dan perlu.

Salam dari Kalianyar
AAG

NB: Ane, jangan lupa menikmati kopi dan serabi ketan di pagi hari sambil menikmati berita hasil pertandingan Real Madrid vs Barcelona.
 

Posting Komentar

0 Komentar