BERITA UTAMA


Film G30S dan Bawuk


Aya musim mungkin bakal segera berganti. Tiap hari di kotaku angin kencang mulai menerjang. Kata orang-orang tua, angin kencang pertanda ada perubahan musim. Kemarau tahun ini sangat panjang. Di kotaku, sejumlah kecamatan dan desa sudah mulai mengalami kekeringan dan kesulitan air. Bagi orang desa di kotaku, kesulitan air adalah ritus yang tiap musim harus dilakoni. Mereka sesungguhnya juga tak ingin tiap musim kesulitan air. Namun Aya, mereka orang desa yang tabah melakoni hidup ini tanpa mengeluh.  

Aya, hari ini adalah 30 September. Tahukah kamu, tiap 30 September, negara ini selalu mengingatkan bangsa ini akan bahaya laten PKI. Dulu pada zaman Orde Baru (Orba), ada film yang selalu mencekam diputar tiap malam 30 September. Judul film itu Pengkhianatan G30S/PKI. Jelas  kamu masih belum sempat menonton film ini. Karena usiamu saat itu masih balita.

Aya, aku ingat, jika tanggal menginjak 30 September, di saluran televisi TVRI, film ini pasti diputar.  Film karya sutradara Arifin C Noer ini menjadi wajib putar. Apalagi kalau sudah di adegan penculikan dan penyiksaan para jendral, terasa sekali mencekamnya. Musiknya saja seperti terror bagi penonton. Ungkapan dari film tersebut yang paling terkenal adalah darah itu merah jendral. Bulu kuduk terasa merinding. Seolah film itu baru saja terjadi dan kita tak ingin terjadi.
Di ujung film, ada perasaan lega karena ada keterlibatan negara yang menumpas ‘partai terlarang’. Harus ada hero dalam film penuh dramatis itu. Agar rakyat selalu menyakini bahwa hero itu sangat penting untuk menenangkan hati rakyat.

Ah, seperti di kota saat ini menjelang pilkada, semua calon bupati seolah bermimpi mampu menjadi hero bagi rakyat. Padahal ketika terpilih menjadi kepala daerah, ya lupa segalanya. Termasuk lupa kepada amanah yang telah diemban di pundaknya. 
 
Aya, film itu hingga kini dianggap nyata oleh bangsa ini.  Padahal persoalan G30S itu masih menjadi debatable.  Banyak versi sejarah, siapa sesungguhnya dibalik G30S tersebut? Benar pelakunya adalah orang-orang PKI. Tapi siapa yang menggerakkan orang-orang ini hingga kini masih menjadi pertanyaan sejarah yang belum terjawab.
Namun Aya,  gagasan, ide dan ideologi dan apapun yang disampaikan oleh film itu sampai sekarang masih merasuk di pikiran bangsa ini. Yakni, bahaya laten PKI.
Ah, kenapa bangsa ini selalu saja menebarkan kebencian? Kenapa memaafkan menjadi kredo utama?

Aya, aku dulu juga membenci PKI setelah menonton film Pengkhianatan G30S/PKI. Namun, waktu berubah, di bangku kuliah aku menemukan sejarah yang sesungguhnya. Aku membaca cerpen Bawuk karya Umar Kayam. Kisahnya tentang keluarga dari simpatisan PKI yang terkena imbas dari operasi militer TNI menumpas PKI saat itu.

Di buku kumpulan cerpen Kunang-Kunang di Manhattan yang bersampul putih, hampir seluruh ceritanya ada yang berlatar peristiwa 30 September 1965.

Aku baru paham dari cerita-cerita yang ditulis Umar Kayam itu, ternyata jutaaan keluarga simpatisan PKI yang justru menjadi korban dari pasca 30 September 1965. Semua akhirnya menjadi korban, ya keluarga PKI, ya keluarga dari lawan politik PKI. Padahal semua adalah anak bangsa ini. Kebencian tak boleh dirawat. Kebencian hanya akan menimbulkan lingkaran kekerasan yang tak akan usai.

Aya,
Sebagai bagian dari generasi bangsa ini, selayaknya kamu kudu nonton film Pengkhianatan G30S/PKI. Dari kajian sinematografi maka film tersebut patut diacungi jempol. Namun dari kajian idelogi, selayaknya kamu harus kritis menonton film itu. Oh ya jangan lupa baca buku Kemunculan Komunisme Indonesia karya Ruth T Mcvey ya.

Salam dari Kalianyar,
AAG

NB: Aya, di Jalan Pemuda ada warung makan lodeh kare ayam yang pedes, sambil ngobrol tentang mafia dalam politik di buku Godfather karya Mario Puzo sepertinya asyik.   

Posting Komentar

0 Komentar