BERITA UTAMA


Faust dan Merawat Pikiran Jernih


Sam,
Mungkin kamu belum pernah mendengar nama penyair JJ Kusni, atau mungkin Agam Wispi. Ya, keduanya cukup jarang terdengar namanya di Indonesia. Karena keduanya menetap lama di Paris. Saat masih mahasiswa di Jogja, aku pernah berkirim surat elektronik (surel) dengan JJ Kusni. Usianya mungkin saat ini sekitar 80-an. Surat dari JJ Kusni itu masih aku simpan di rumah. Mudah-mudahan tak hilang. Karena surat itu dokumentasi yang berharga. Surat-suratku dengan JJ Kusni cukup panjang. JJ Kusni berharap surat-surat itu diterbitkan menjadi buku. Namun, hingga kini belum terealisasi. Semoga semua utang-utangku menerbitkan buku itu segera dapat terwujud. Doakan saja Sam.  
Sam, awalnya, aku mengenal JJ Kusni dari email. Saat itu belum ada facebook dan twitter. Aku mengirim opini kepadanya tentang sastra wangi.
Pada tahun 1960-an, JJ Kusni merupakan tokoh dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Saat itu, Lekra dianggap bagian dari partai terlarang. JJ Kusni yang saat peristiwa 1965 berada di Eropa, akhirnya tak bisa pulang. Pada era Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur), mereka mendapatkan kebebasan. Mereka diperbolehkan pulang ke Indonesia. JJ Kusni pun akhirnya sering pulang ke Indonesia. Namun, hingga kini dia masih menetap di Perancis. Di usia yang sangat senja, dia hingga kini masih aktif menulis. Aku masih menikmati tulisannya di email grup.

Bukan hanya JJ Kusni, banyak sastrawan Indonesia saat itu yang tak bisa pulang ke negeri ini, hanya gara-gara disangkutpautkan dengan partai terlarang. Termasuk Agam Wispi. Aku menyukai terjemahan Agam Wispi dalam novel Faust karya Goethe. Novel itu bercerita tentang seorang dokter yang haus ilmu pengetahuan. Untuk meraih ilmu pengetahuan  dia berani bersekutu dengan iblis. Menarik karena ada kontradiktif. Ilmu pengetahuan yang seharusnya untuk kemanusiaan tapi seorang ilmuwan harus bersekutu dengan iblis untuk memperolehnya.

Saking senangnya aku dengan Faust, aku juga membeli Faust yang diterjemahkan Abdul Hadi WM. Namun, kini tinggal satu buku Faust yang aku miliki. Sementara buku yang diterjemahkan Agam Wispi dipinjam oleh Lan Fang.   

Sam, sesekali bacalah karya dari sastrawan  Eropa dan Amerika Latin, seperti Faust atau Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez agar ada pengayaan literatur dalam bacaanmu.   

Di rak bukuku, aku tak memiliki sajak-sajak  JJ Kusni.  Kalau Agam Wispi, aku membacanya terjemahannya dalam Faust. Sajak-sajak JJ Kusni, aku baca di email. Dia rajin kirim karya-karyanya di email grup. Bagiku, sajak-sajak JJ Kusni cukup menggigit. Mereka seolah mampu membaca dunia batin rakyat dalam puisi. Sehingga penguasa yang membaca karya mereka seolah disentil agar kembali lagi berpihak kepada rakyat.

Sam, penulis tetaplah penulis. Mereka harus terus berkarya dimanapun dia berada. Begitu juga orang seperti JJ Kusni, Agam Wispi, atau Pramoedya Ananta Toer. Bagi mereka menulis adalah bekerja untuk dunia. Tulisan akan abadi dan dibaca oleh siapapun. Pramoedya Ananta Toer tetap menulis meski dibuang di Pulau Buru. JJ Kusni dan Agam Wispi tetap menulis puisi tentang Indonesia meski mereka terasing di Eropa.

JJ Kusni dan Agam Wispi dalam ranah sastra, mereka disebut sastrawan eksil. Mereka orang Indonesia, menulis tentang Indonesia tapi mereka tak menetap di Indonesia.
Sam, pengen tahu isi suratku dengan JJ Kusni? Surat itu sudah lama, yakni pada 2004. Saat itu, aku menulis opini tentang sastra wangi menjadi perbincangan. Aku kirim opiniku kepada JJ Kusni. Tak kusangka, JJ Kusni ternyata menyambut baik dan membalas suratku.  Dia membalasnya hingga lebih dari 10 surat. Membaca surat-suratnya aku seperti aku mendapatkan banyak pengetahuan yang tak aku dapatkan di bangku kuliah.

Sam, sebutan sastra wangi diberikan kepada para sastrawan perempuan yang menulis tentang dirinya. Mereka mendobrak pakem sastra. Baik dari tema maupun alur. Ada Dewi Lestari, Djenar Maesa Ayu, Ayu Utami dan sejumlah penulis perempuan lainnya. Mereka bukan hanya menulis soal perjuangan melawan patriarkhi saja. Namun, juga menyentuh tema yang vulgar. Bagi masyarakat, tema vulgar masih dianggap tak sesuai nilai masyarakat. Namun Sam, sastra tetaplah sastra. Dia bebas nilai. Dia bebas tafsir.

Sam,
Aku kadang berharap stamina kita menulis seperti JJ Kusni. Tak henti menulis meski dalam usia senja. Terus belajar meraih pengetahuan hingga usia lanjut. Sam, teruslah membaca dan menulis. Karena itulah yang akan merawat pikiran dan hati agar tetap jernih.

Salam dari Kalianyar

AAG

NB: Sam, hujan tak henti malam ini. Aku membaca sajak Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. 

Posting Komentar

0 Komentar