BERITA UTAMA


Bendoro Gadis Pantai dan Pemberi Perintah

ilustrasi buku gadis pantai

Lang,
Dalam suratmu yang aku terima dalam gerimis di sore itu. Kamu bertanya tentang pemerintah. Apa sebenarnya pemerintah? Darimana asal usul kata ‘pemerintah’?
Memahami pemerintah sebenarnya sederhana Lang. Pemerintah, berasal kata dari perintah, lalu menjadi kata kerja memerintah dan menjadi, pemerintah. Jadi pemerintah sebenarnya adalah pelaku yang memberi perintah. Pendek kata, pemerintah jika ditilik dari bahasanya saja bukan berarti pelayan tapi pemberi perintah. Jadi, mereka para pejabat memang dijadikan Ndoro bukan pelayan pemerintah.

Lang, aku juga tak tahu alasan kata ‘pemerintah’ alasan pemberi kata ‘pemerintah’ sehingga memungut kata ‘pemerintah’ seolah-oleh menjadi menjadi pemilik sah suara rakyat.

Namun Lang, satu kata itu ternyata menjadi semacam laku dan sikap. Sehingga siapapun yang menjadi kepala pemerintahan, pasti tugasnya adalah pemberi perintah. Menurutmu pendapatku benar tidak? Sehingga jika kita menuntut mereka berlaku sebagai pelayan, hal itu jelas, kata Asmuni Srimulat, yang hal yang mustahil dan hil yang mustahal.

Lang, aku sebenarnya sepakat jika pada zaman dulu pemerintah disebut pamong praja. Namun kata pamong praja lebih kental aroma Jawa, sehingga ditolak karena dicurigai jawanisasi. Padahal, kata pamong sangat tepat. Mengapa? Sebab sudah seharusnya mereka menjadi pamomong. Pelayan yang seharusnya bisa ngemong rakyat bukan sebagai Ndoro. Dalam kajian ilmu wayang, pejabat harus menjadi semar yang menjadi pamomong yang ngemong.

Lang, sebenarnya persoalan bahasa adalah masalah yang sepele. Namun, masalah sepele ternyata menjadi kultur. Akibatnya itu menjadi masalah yang sangat besar.  Bahkan telah merasuk menjadi sikap yang kerap seorang yang memberi perintah. Kalau sudah menjadi sikap, inilah yang sulit untuk diurai. Seperti benang yag sudah kusut dan sangat kusut. 

Maka tak salah Lang, jika menjadi kepala pemerintah menjadi rebutan bagi siapapun. Saat ini ada parpol yang mencoba saling menjajaki. Katanya sih membangun koalisi. Tapi koalisi seperti apa yang dibangun juga tak jelas. Intinya hanya soal bagi-bagi kue saja. 

Lang, aku ingin bercerita sedikit. Di kotaku, seorang pejabat baru di perpustakaan ternyata tak miliki visi apapun soal mengembangkan perpustakaan. Aku tak tahu siapa yang memilihnya menjadi pejabat baru di perpustakaan. Padahal perpustakaan semestinya menjadi program peningkatan kualitas manusia. Namun, jika tak ada pejabat yang tak punya visi, maka tak ada harapan untuk meningkatkan kualitas manusia. 

Ceritanya begini, seorang teman kebetulan ada program untuk memperbaiki perpustakaan. Saat bertemu dengan pejabat tersebut, bukan soal gagasan yang ditawarkan kepada teman. Namun, dia bertanya, kalau ada kegiatan membaca, apa ada uang transport buat dirinya. Lang, kalau kamu posisinya seperti temanku tadi, kira-kira apa yang ada dipikiranmu. Marah? Mungkin saja marah. Tapi marah kepada pejabat yang tak miliki visi kadang percuma. Karena kalau ada idiom Jawa sing waras ngalah. Nah, itu cara tepat menghadapi pejabat yang tak miliki visi.

Jadi Lang, temanku tadi memilih untuk diam dan tertawa saja dalam hati. Kalau anak muda bilang, hari gene kok ada pejabat yang tanya uang transpor, wooooiii bangun!. Padahal pejabat sudah mendapatkan gaji dari negara. Tapi sikap dan etikanya masih mental peminta. Ya, kata pemerintah dan peminta sebenarnya tak beda jauh. Mental peminta, biasanya mental yang suka memerintah.

Lang, sudah baca novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer? Ada tokoh Bendoro dalam npvel itu. Bendoro kalau dipendekkan ya disebut Ndoro. Panggilan bagi priyayi atau anak pejabat pada masa lalu. Kata Ndoro saat ini jarang disebut. Mungkin masih di lingkungan keraton  atau sejumlah priyayi di Jogjakarta dan Solo. Aku yakin di kotamu dan kotaku juga jarang menyebut kata Ndoro saat ini.  Lang, Dalam kisah Gadis Pantai itu, diceritakan superioritas Bendoro menggunakan kekuasaannya. Gadis Pantai pun tak mampu melawannya. Bendoro dengan enak saja asal perintah mau mengawini tiap perempuan yang disukainya. Bukan hanya itu, seorang Bendoro juga mempunyai perilaku yag agamis di mata rakyatnya. Namun, didalam perilaku yang sebenarnya dia cukup bengis. Dia mengusir Gadis Pantai karena tak mampu menjadi istri  yang baik. Bendoro dalam novel Gadis Pantai adalah simbol kekuasaan yang sinis kepada rakyatnya. Seperti ‘pemerintah’ yang tugasnya sebagai ‘pemberi perintah’ bukan ‘pelayan rakyat’.

Lang,
Beberapa hari ini aku membaca buku Jangan Panggil Septi Monyet. Buku yang cukup bagus. Ditulis dengan gaya features yang enak dibaca. Isinya, tentang kisah orang-orang yang mampu memberikan manfaat hidup kepada masyarakat. Mereka bukan orang terkenal. Mereka bukan artis. Mereka hanya orang biasa-biasa yang menjadi inspirasi bagi semua orang. Tapi yang jauh lebih menarik dari mereka adalah keteladanan.
Ya, keteladanan yang sekarang hilang dari para pemimpin di pemerintahan.


Salam dari Kalianyar,
AAG

NB:  Lang, secangkir kopi dan serabi ketan di depan Stadion Letjend Soedirman di malam hari sambil ngobrol bagi-bagi kue koalisi parpol.      

Posting Komentar

0 Komentar